Pengujian Bahan Logam Part 3

Senin, 3 Oktober 2016

Uji tarik mungkin adalah cara pengujian logam yang paling mendasar. Pengujian ini sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM E8 dan Jepang dengan JIS 2241. Dengan menarik suatu spesimen kita akan segera mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus menarik spesimen sampai putus, kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap yang berupa kurva, Kurva ini menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang. Profil ini sangat diperlukan dalam desain yang memakai spesimen tersebut.

Alat yang digunakan untuk melakukan uji tarik adalah Tensile Testing Machine. Brand terkenal untuk alat uji tarik antara lain adalah antara lain adalah Shimadzu, Instron dan Dartec.

Prinsip pengujian tarik adalah spesimen ditarik dengan laju pembebanan yang lambat, hingga spesimen itu putus. Mesin uji tarik akan mencatat besarnya beban tarik yang diberikan terhadap spesimen setiap saat beserta besarnya perpanjangan (elongation) yang terjadi pada spesimen setelah dilakukan uji tarik. Alat pencatat beban beban tarik adalah load cell. Sedangkan alat pencatat perpanjangan yang terjadi pada spesimen adalah ekstensometer.

Pada pengujian tarik nantinya akan diperoleh sifat mekanik dari logam antara lain ;

Kekuatan elastis : kemampuan spesimen untuk menerima beban / tegangan tanpa berakibat terjadinya deformasi plastis (perubahan bentuk yang permanen). Ditunjukkkan oleh titik luluh (yield).

Kekakuan (stiffness) : spesimen memiliki kekakuan tinggi bila mendapat beban (dalam batas elastisnya) akan mengalami deformasi plastis, tetapi hanya sedikit.

Resilience : kemampuan spesimen untuk menyerap energi tanpa menyebabkan terjadinya deformasi plastis.

Kekuatan tarik (Tensile strength) : Kemampuan spesimen untuk menerima beban/ tegangan tanpa mengakibatkan batang rusak atau putus.

Keuletan (Ductility) Kemampuan bahan untuk berdeformasi tanpa menjadi patah.

Ketangguhan (Toughness) Kemampuan menyerap energi tanpa mengakibatkan patah, dapat diukur dengan besarnya energi yang diperlukan untuk mematahkan batang uji. *berbagai sumber

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Berita :
Tabloid Steel Indonesia

Komentar Anda :

Share :

Baca Juga